Viktor Gyokeres, striker asal Swedia, tengah menghadapi musim yang penuh tantangan bersama Arsenal. Sejak didatangkan pada musim panas lalu dengan biaya lebih dari 60 juta pound, termasuk bonus, Gyokeres baru mencetak enam gol dalam 22 penampilan di Premier League. Hasil ini jauh dari ekspektasi, mengingat performanya yang impresif saat membela Sporting Lisbon.

Kritik terhadap Gyokeres terus berdatangan dari media, penggemar, hingga para analis sepak bola. Banyak pihak mempertanyakan mengapa striker yang dulu mencetak gol dengan mudah kini kesulitan menembus lini belakang lawan. Tekanan ini membuat masa adaptasi Gyokeres di London Utara semakin sulit.
Paul Merson, legenda Arsenal, menyoroti bahwa masalah Gyokeres bukan hanya soal performa individu, tetapi juga terkait hubungan dengan rekan setimnya. Menurut Merson, para pemain Arsenal tampaknya tidak memberikan kepercayaan penuh kepada Gyokeres dalam permainan.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Komentar Paul Merson soal Kepercayaan Skuad
Merson menjelaskan dalam podcast Stick to Football bahwa Gyokeres jarang mendapat operan dari rekan-rekannya. “Arsenal tidak mempercayainya, para pemain – mereka tidak pernah mengoper bola kepadanya,” ujarnya. Fenomena ini membuat Gyokeres sulit mendapatkan ritme dan kesempatan mencetak gol.
Merson menambahkan bahwa perbedaan terlihat jelas saat pemain lain seperti Gabriel Jesus bermain. “Jika Anda menontonnya, Anda akan terkejut. Mereka terus-menerus memberikannya bola,” kata Merson, menekankan bahwa kepercayaan dalam tim sangat memengaruhi performa seorang striker.
Perbedaan perlakuan ini menimbulkan pertanyaan tentang integrasi Gyokeres di lini depan Arsenal. Saat pemain lain mendapatkan banyak perhatian dan operan, Gyokeres seolah terpinggirkan meski sudah bekerja keras di lapangan.
Baca Juga: Bernardo Silva Optimis City Bisa Membalikkan Keadaan Musim Ini
Dampak Kurangnya Kepercayaan pada Penampilan Gyokeres

Kurangnya kepercayaan dari rekan setim berdampak signifikan pada produktivitas Gyokeres. Dalam pertandingan semifinal Piala EFL melawan Chelsea, striker Swedia itu hanya mencatatkan 10 sentuhan sebelum digantikan oleh Kai Havertz, yang kemudian membantu Arsenal meraih kemenangan.
Situasi ini menunjukkan bahwa Gyokeres kesulitan untuk masuk ke dalam ritme permainan Arsenal. Operan jarang datang kepadanya, sehingga peluang mencetak gol pun semakin minim. Dampak psikologisnya pun bisa membuat kepercayaan diri pemain menurun.
Kondisi ini membuat Gyokeres harus berjuang lebih keras untuk membuktikan diri dan mendapatkan kepercayaan dari rekan setim serta pelatih. Keberhasilan adaptasi akan menjadi kunci untuk menyelamatkan musim pertamanya di Premier League.
Pilihan Arsenal di Lini Depan
Arsenal memiliki beberapa opsi lain di lini depan jika Gyokeres terus kesulitan. Kai Havertz dan Gabriel Jesus menjadi alternatif yang lebih dipercaya oleh para pemain dan pelatih. Kedua striker ini sering menjadi titik fokus serangan Arsenal dan berhasil menunjukkan performa yang konsisten.
Gabriel Jesus, khususnya, terbukti mendapatkan banyak operan dan perhatian, yang membuatnya lebih mudah mencetak gol dan membantu tim. Sementara itu, Havertz juga mampu memberikan kontribusi saat dimainkan sebagai starter atau pengganti.
Dengan persaingan yang ketat di lini depan, Gyokeres harus segera menyesuaikan diri atau menghadapi kemungkinan posisi yang semakin terbatas. Tantangan terbesar bagi pemain asal Swedia ini adalah membalikkan persepsi skuad Arsenal dan membuktikan nilai sejatinya sebagai striker andalan. Nantikan terus kabar terbaru seputar sepak bola menarik lainnya hanya di football-euro.com.
